Postingan

KTP Islam, Paradigma Syirik

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (31) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (32) Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Q.S. al-Rum [30]: 32). Sebelumnya pada ayat 30 Surah al-Rum, manusia diperintahkan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetap-lah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” Penjelasan tentang agama fitrah dilanjutkan oleh Alquran dengan peringatan pada ayat 31: “dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Selanjutnya, ayat 32 Surah al-Rum—menurut Ibn ‘Āsyūr—bukan …

Jebakan Paradigma

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (الأنعام: 122ا) Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.(Q.S. al-An ‘am [6]: 122). Ayat ini menjawab pertanyaan tentang orang-orang musyrik yang terus bertahan dalam kesyirikannya. Mereka mendebat dan mempengaruhi umat Islam agar mengikuti jalan pikiran mereka. Padahal Alquran telah memberi tuntunan yang kebenarannya dapat diterima secara rasional. Realitanya mereka itu orang-orang yang cerdas, lalu apakah rasionalitas intelektual mereka tidak …

Jauhi Wanita

“...hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh, dan janganlah kamu mendekati mereka..” (QS. Al-Baqarah [2]: 222) Jika dipenggal ayat di atas terkesan diskriminatif, terutama bagi mereka yang orientasi berpikirnya didominasi oleh sensitivitas gender. Tetapi sebenarnya ayat ini berisi pesan tindakan preventif terhadap wanita, agar terhindar dari penyakit berbahaya. Oleh karena itu ayat ini harus dibaca secara utuh, menyeluruh dan pemaknaan penuh. Beruntungnya, kita yang hidup di akhir masa ini dianugerahi Allah ilmu interdisipliner sehingga dapat mencapai keutuhan dan kepenuhmaknaan ayat ini. Perhatikan keseluruhan rangkaian redaksi ayat: Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai or…

Pendekatan Maqāşidī

Gambar
Pendekatan tidak sama dengan metode, sebab metode adalah cara mengerjakan sesuatu, sedangkan pendekatan adalah cara memperlakukan sesuatu.[1] Dengan kata lain, pendekatan merupakan ‘cara’ dari perspektif subjek (peneliti) sedangkan metode merupakan ‘cara’ dari perspektif objek (masalah yang diteliti). Menurut Heddy Shri Ahimsa-Putra, hakikat metode penelitian adalah proses pengumpulan data, maka inti metode dalam penelitian adalah cara-cara yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data.[2] Hal ini menunjukkan perbedaan mendasar antara metode dengan pendekatan, sebab pendekatan adalah ‘cara’ memperlakukan sesuatu dari perspektif peneliti. Dengan demikian, pendekatan bersifat abstrak dan berupa konsep mental si peneliti.[3] Mengingat hakikatnya sebagai konsep mental, maka pemilihan suatu pendekatan dalam sebuah penelitian dipengaruhi oleh paradigma yang dianut peneliti dan cenderung subjektif. Namun hal ini bisa diantisipasi dengan mengajukan pertanyaan epistemologis, yaitu sifat hubun…

Kekuatan Kata

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (يس: 82) Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (Q.S. Yasin [36]: 82). Ayat ini dan beberapa ayat lain yang senada kerap ditakwil karena dianggap tidak rasional. Karena terjadinya sesuatu merupakan akibat dari perbuatan, sedangkan kata juga hasil perbuatan. Jadi tidak logis dikatakan sesuatu mewujud hanya dengan kata-kata. Dari itu, “kun” ditakwil sebagai aksi yang lebih dari sekadar kata. Mungkin logika ini kokoh dari perspektif fisika newtonian modern. Tetapi dari perspektif fisika quantum logika ini tidak cukup bertahan. Fisika quantum mengungkapkan bahwa inti atom berupa energi yang disebut elektron, proton dan sebagainya. Sementara kata disampaikan lewat suara yang berupa gelombang. Temuan-temuan ini sinergi dengan perkembangan filsafat postmodern yang melihat fenomena berbahasa sebagai inti filsafat. Berbahasa dilihat sebagai media …

Perkataan Buruk

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا (148) إِنْ تُبْدُوا خَيْرًا أَوْ تُخْفُوهُ أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا (149) Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jika kamu menyatakan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa. (QS. Al-Nisa’ [4]: 148-149).
Menurut para mufasir, kata layuhibbu (tidak menyukai) di sini bermakna dilarang. Sebab suka dan benci merupakan dorongan psikologis (infi‘al) yang mustahil adanya pada diri Allah. Bahkan dilihat dari dimensi ilahiah, penciptaan alam dengan fenomena positif negatif di dalamnya merupakan kosekuensi dari sunnatullah. Dalam hal ini, Allah tidak punya kepentingan dengan kedua sisi sunnatullah ini. Lain halnya dari dimensi insaniah, kepe…

MENGGAGAS TAFSIR AYAT HUKUM DALAM KERANGKA FIQH AL-IKHTILĀF

Tulisan ini telah dimuat di Jurnal Substantia, Vol 18, No. 2, tahun 2016  http://www.substantiajurnal.org/index.php/subs/article/view/175
Abstrak Perbedaan pendapat dalam penafsiran terhadap ayat hukum dapat menimbulkan kesan adanya disharmoni antara satu sama lain ajaran Alquran. Padahal ayat 82 Surah al-Nisa menegaskan bahwa tidak ada kontradiksi dalam Alquran. Namun persoalan ini tidak terakomodir dalam kajian fikih karena perbedaan dilihat sebagai masalah furukiyah saja. Padahal tidak sedikit perbedaan itu terjadi pada isu-isu fundamental ajaran Islam. Sayangnya hal ini juga tidak tertangani oleh disiplin ilmu tafsir karena orientasinya yang terfokus pada penemuan makna. Oleh karena itu, tulisan ini menawarkan agar tafsir ayat hukum dilakukan dalam kerangka teoretik fiqhal-ikhtilāf yang melihat perbedaan sebagai keragaman (al-ta‘addud al-tanawwu‘). Dalam tulisan ini, metode deduktif interpretif dipadukan dengan metode analisis kritis, lalu digunakan untuk melakukan kajian terhada…

PENDEKATAN SIRKULER DALAM KAJIAN PERBANDINGAN MAZHAB

A.Pendahuluan Kajian perbandingan mazhab dalam fikih dapat mengantarkan peneliti pada temuan sifat saling mengisi antar pendapat yang berbeda. Oleh karena itu, kajian perbandingan mazhab sangat urgen di tengah keragaman furukiyah masyarakat muslim, khususnya di Indonesia. Namun jika dilakukan dengan pendekatan keilmuan yang kurang tepat justru akan bertentangan dengan nilai islami yang melihat perbedaan sebagai rahmat. Dalam Hadis yang dibukukan oleh al-Bukhārī (juga al-Nasā’ī), Rasulullah saw. bersabda: عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ » . Diriwayatkan dari ‘Amr ibn ‘Āş, bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seorang hakim berijtihad dan benar maka ia mendapat dua pahala, dan apabila salah ia mendapat satu pahala.” (H.R. al-Bukhārī).[1]

Zakat dan Riba; Tafsir ayat 39 Surah al-Rum

Membicarakan ajakan membayar zakat menimbulkan pertanyaan, bukankah zakat telah diperintahkan langsung oleh Allah? Maka perintah Allah ini sudah lebih dari cukup sebagai ajakan. Lalu apa faedahnya ajakan membayar zakat? Berbagai jawaban bisa diajukan, tetapi Alquran menetapkan agar setiap ajakan dilakukan dengan hikmah dan maw‘idhahhasanah (QS. Al-Nahl [16]: 125). Hal ini meniscayakan ajakan membayar zakat juga dilakukan dengan menyentuh kesadaran muzakki. Untuk itu, perlu dikemukakan satu persoalan dalam zakat yang menuntut sikap bijaksana sehingga ajakan membayar zakat dapat dilakukan dengan hikmah dan maw‘idhahhasanah pula. Mengingat substansi Islam adalah ajaran Alquran dan Sunah, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengeksplor wacana Alquran tentang zakat. Dalam hal ini, menarik ketika Alquran mengemukakan wacana dalam ayat berikut: وَمَا آَتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ وَمَا آَتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَ…

Kembali ke Fitrah: Tafsir ayat 30 Surah al-Rum

Allah berfirman dalam surat al-Rum: فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (الروم: 30) Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetap-lah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. al-Rum [30]: 30). Menurut al-Zujâj, kata perintah “aqim” dalam ayat berarti “ikutilah agama yang lurus, dan ikutilah fitrah Allah”, (al-Qurthubî, t.th.: XIV, 20). Jadi kata aqim dimaknai atbi‘ dan memiliki dua objek (maf‘ûl), yaitu wajhaka dan fitrat Allah. Sementara al-Thabari menjadikan kata fitrah sebagai sandaran (masdar) perintah aqim, yaitu; karena --secara fitrah-- Allah menciptakan manusia dengan kesiapan untuk menerima dan me-ngemban agama ini. Penafsiran lain dari Thahir ibn ‘Asyûr menjadika…