Ayat-ayat Setan (Satanic Verses): Penafsiran Ayat 52 Surat al-Hajj

Umat Islam sempat tersentak dan murka saat Salman Rushdie memojokkan umat Islam lewat novelnya The Satanic Verses pada tahun 1988. Salah satu materi yang diangkatnya adalah keberadaan ayat setan dalam bacaan Nabi Muhammad saw. Namun tak dapat dipungkiri bahwa materi tentang ayat-ayat setan memang terdapat dalam khazanah Islam sendiri.
Kaum muslimin meragukan kebenaran cerita ini karena tidak ada referensi dari Alquran. Juga tidak disebutkan oleh Ibn Ishaq dalam catatan yang paling awal dan paling terpercaya mengenai kehidupan Nabi Muhammad saw. Bahkan tidak tercantum dalam kumpulan hadits Bukhārī dan Muslim, (al-Qurtubi, t.th.: XII, 70).
Meskipun diragukan namun riwayat tentang ayat setan -antara lain- telah termuat dalam Tafsīr al-Thabari, Tafsīr al-Kasyaf, Tafsīr Jalalayn dan lain-lain. Mereka mengangkat tentang adanya ayat bisikan setan itu (gharānīq) saat menafsirkan ayat 52 surat al-Hajj.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (52)
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. al-Hajj: [22] 52).

Secara semantik, pada ayat ini memang memungkinkan dipahami adanya potensi masuknya setan untuk menyisipkan bisikannya dalam wahyu Allah. Namun secara sintaksis dan munāsabah (kesesuaian ayat sebelum dan sesudahnya), ayat ini justru menjelaskan keterpeliharaan nabi dan rasul. Allah menghilangkan bisikan setan yang dilancarkan untuk menghalangi dakwah para nabi dan rasul. Namun saat menjelaskan asbāb al-nuzūl ayat, cerita tentang ayat setan pun muncul.
Menurut al-Tabarī (juga Ibn Sa‘ad dan Zamakhsyarī), akibat membawa risalah Islam, Nabi Muhammad saw. dihindari oleh kaum dan kerabatnya sendiri, sehingga dalam perenungannya beliau berpikir; “Seandainya Allah menurunkan sesuatu yang membuat mereka tidak lari dariku...”. Pemikiran itu terus membayang sampai suatu hari beliau sedang berada di sekitar Ka‘bah dan membacakan surat al-Najm. Ketika sampai pada ayat 19 dan 20, di sinilah setan menyelipkan bisikannya.
أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى (19) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى (20)
Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). (Q.S. al-Najm: [53] 19-20).

Setan menyelipkan dua kalimat berikut: (Lihat Ibn Sa‘ad, Thabaqāt al-Kubrā, Beirut: Dār Sadr, 1985, hal. 205).
تلك الغرانقة العلى، وإن شفاعتهنّ لترجى
Demikianlah gharānīq yang tinggi, dan sungguh perantaraannya diharapkan.

Kemudian Nabi Muhammad saw. melanjutkan bacaan keseluruhan surat, lalu melakukan sujud tilawah, maka bersujudlah seluruh kaumnya yang hadir di situ. Bahkan Wālid ibn Mughīrah mengangkat tanah ke dahinya sebagai ganti sujud, karena ia sudah tua renta dan tak sanggup bersujud. Ada yang mengatakan yang mengangkat tanah adalah Abū Uhayhah (Sa‘īd ibn al-‘Ash). Sebagian mengatakan keduanya melakukan hal yang sama karena sudah renta.
Orang Qurays sangat setuju dengan apa yang di bacakan Muhammad dan mereka berkata: “Sungguh kami mengakui bahwa Allah menghidupkan dan mematikan, menciptakan dan memberi rezeki. Tetapi Tuhan kami juga memberi syafaat (menjadi perantara) bagi kami di sisi Allah. Jika kamu memberi tempat kepada tuhan kami, tentu kami akan bersamamu”.
Rasulullah tidak tahan mendengar kata-kata Qurays ini, dan ketika duduk di rumahnya hingga sore, Jibril datang. Sambil mengisyaratkan kepada kedua ayat itu, Jibril bertanya: “Apakah aku menurunkan dua kalimat ini padamu?” Maka rasulullah berkata: “Aku mengatakan sesuatu yang tidak difirmankan Allah?”, lalu Allah menurunkan ayat berikut:
وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا (73) وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا (74) إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا (75)
Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah kami wahyukan kepadamu, agar kamu  membuat yang lain secara bohong terhadap Kami. Dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.[] Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.[] Kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami.[] (Q.S. al-Isrā’: [17] 73-75)

Esensi ayat setan diperkuat dengan peristiwa lain. Bahwa berita sujudnya ahl al-Makkah ini sampai kepada kaum muslimin yang berada di Habsyah (Abbisinia), mereka berucap; “Siapa lagi yang tertinggal di Mekkah, jika orang-orang ini telah Islam? Kami lebih mencintai keluarga kami”. Maka mereka memutuskan untuk pulang, (Ibn Sa‘ad, t.th.: 206).
Perlu dicatat, bahwa hijrah ke Abbisinia dilakukan pada bulan Rajab tahun kelima kenabian. Adapun Peristiwa pembacaan surat al-Najm (yang didakwa gharānīq) terjadi dalam bulan Ramadhan tahun yang sama. Lalu rombongan hijrah kembali lagi ke Mekah pada bulan Syawal tahun itu, (Qādī Qan‘an al-Sāwī, t.th.: III, 106).
Karen Amstrong menganalisis peristiwa ini sebagai sesuatu yang sangat manusiawi. Bahwa ketika Rasul saw. melihat rakyatnya berpaling darinya sebab pesan Tuhan yang dibawanya. Ia merasa terluka dan berharap akan adanya pesan Tuhan yang merekonsiliasi rakyat dengan dirinya. Cinta dan kekhawatirannya terhadap rakyatnya sangat besar, sehingga dia sangat senang jika hambatan yang membuat tugasnya sulit dapat diangkat, (Karen Amstrong, 2001: 147).
Analisa Karen Amstrong itu juga memiliki relevansi dalam khazanah Islam, sebab catatan sejarah hidup Nabi Muhammad saw. yang paling awal ditulis memuat dasar analisa ini. Ibn Hisyām dalam kitabnya Sīrah Nabī menulis, bahwa dalam masa tiga tahun dakwah Rasul saw. secara door to door, belum terlihat penolakan Qurays. Bahkan ketika Rasul saw. memulai dakwah terbuka, juga belum ada penolakan yang signifikan dari mereka. Penolakan itu justru muncul ketika Rasul saw. mulai mencela Tuhan-tuhan mereka, (Ibn Hisyām, t.th.: I, 275-276).
Menurut Sa‘īd Ramadān al-Būtī dalam kitabnya Fiqh al-Sīrah, ketika berdakwah terbuka Rasul melakukan serangan logika yang tak sanggup ditandingi oleh Qurays karena mereka beragama secara taklid buta. Kecenderungan untuk mempertahankan agama nenek moyangnya lah yang akhirnya membuat mereka mengambil alternatif jalan kekerasan, (al-Būtī, t.th.: 99-100). Alquran mencatat:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ (المائدة: 104)
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”, mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk. (Q.S. al-Ma’idah: [5] 104).

Di sisi lain, kehidupan di Mekkah yang keras mengharuskan seseorang tetap berada dalam perlindungan klannya. Mereka yang tidak mendapatkan perlindungan klan (jiwar), atau klannya kurang kuat, maka dapat saja ia terbunuh tanpa pembalasan, (Haykal, 1980: 10). Dalam kondisi sosial seperti ini, Muhammad yang membawa ajaran baru menjadi terancam hidupnya.
Abū Tālib sebagai petinggi klan Banī Hasyīm dimintai pertanggungjawaban oleh Qurays atas perbuatan Muhammad yang mencela Tuhan mereka. Muhammad sendiri mendapat jaminan dari Abū Tālib sehingga terhindar dari tindakan represif Qurays. Tetapi pengikutnya yang berasal dari klan rendah dan miskin tidak dapat diselamatkan.
Ibn Ishāq mengisahkan bahwa perintah melakukan Hijrah pertama ke Habsyah terjadi akibat bentrokan berdarah yang tercatat sebagai insiden berdarah pertama dalam sejarah Islam. Insiden dramatik itu terjadi karena Sa‘ad ibn Abī Waqqās tidak sanggup lagi bersabar atas intimidasi Qurays sehingga ia memukul salah seorang musyrikin Qurays dengan rahang unta, (Ibn Hisyām, t.th.: I, 275, 343).
Tindakan represif Qurays terhadap pemeluk agama baru ini merupakan konsekuensi dari penolakan mereka terhadap perubahan atau ancaman terhadap kemerdekaan mereka selama ini. Di sini Qurays memperlihatkan komitmennya.
Kiranya demikianlah gambaran kondisi sosial yang melingkupi Nabi saw. kala itu. Namun apakah kondisi sosial ini cukup beralasan untuk boleh memasukkan dua ayat gharānīq di atas dalam Alquran? Jika Muhammad melakukannya, apakah tidak menjatuhkan kredibilitas kenabiannya?
Kedua pertanyaan ini selalu menghantui para mufassir dalam mengkritisi esensi ayat gharānīq. Tentunya ayat-ayat Alquran tidak mungkin disisipi oleh setan sementara Allah telah menjamin keaslian dan kelestariannya. Demikian pula Muhammad tidak mungkin berbuat lacur, sementara ia diakui Qurays sebagai sosok yang terpercaya, teguh, dan tangguh. Namun sisi kemanusiaan dari Muhammad juga tidak boleh dipungkiri, ia juga bisa sedih, gundah dan sebagainya. Lalu bagaimana seharusnya fakta ini dipertautkan?
Zamakhsyarī sebagai tokoh ulama rasional dari kalangan Muktazilah, kelihatan menerima riwayat itu. Dalam tafsirnya al-Kasyaf, ia menyatakan bahwa nabi terlanjur lidah karena lalai dan tidak sengaja mengucapkannya, (al- Zamakhsyarī, t.th.: III, 100):
{ أَلْقَى الشيطان فِى أُمْنِيَّتِهِ } التي تمناها ، أي : وسوس إليه بما شيعها به ، فسبق لسانه على سبيل السهو والغلط إلى أن قال : تلك الغرانيق العلى ، وإن شفاعتهنّ لترتجى
Demikian pula Jalāl al-Mahallī dari golongan Syāfi‘iyyah, dalam tafsir Jalālayn ia menyatakan bahwa secara tanpa sadar Nabi Muhammad saw. telah membaca sesuatu yang disisipkan setan, (Jalāl al-Mahallī, t.th.: III, 102):
وقد قرأ النبي صلى الله عليه وسلم في سورة النجم بمجلس من قريش بعد { أَفَرَءيْتُمُ اللات والعزى ومناة الثالثة الأخرى } [ 53 : 19 - 20 ] بإلقاء الشيطان على لسانه من غير علمه صلى الله عليه وسلم به : ( تلك الغرانيق العلا وإن شفاعتهنّ لترتجى ) ففرحوا بذلك ،
Sebagaimana Ibn Sa‘ad dan al-Tabarī, kelihatannya Zamakhsyarī dan al-Mahallī juga menerima semua riwayat tentang gharāniq apa adanya. Mereka cenderung hanya mengumpulkan semua informasi tentang penafsiran ayat ini, tanpa mengkritisi dan melakukan verifikasi. Bisa saja tafsir seperti ini dipandang sebagai rekaman deskriptif saja sambil meyakini bahwa penafsirnya masih teguh dalam keimanan. Namun tidak adanya catatan khusus untuk ini, membuat informasi itu bisa diselewengkan, terutama oleh yang memusuhi Islam.
Bagi Haykal, riwayat tentang gharānīq ini bertentangan dengan sifat kesucian para nabi, maka sangat mengherankan jika para penulis riwayat nabi menukil cerita ini, (Haykal, 1980: 130). Al-Qurtubī dalam kitabnya al-Jāmi‘ li Ahkām al-Qur’an, secara tegas menyatakan tidak ada satu pun dari riwayat-riwayat tentang gharānīq yang sahih, (Al-Qurtubī, t.th.: XII, 69).
Cerita gharānīq yang diriwayatkan oleh al-Layts dari Yunus, dari al-Zuhri, menurut al-Nuhās merupakan hadis munqati‘ (terputus sanadnya), jadi tidak bisa menjadi hujah. Demikian pula satu riwayat dari Qatadah, juga bernilai munqati‘. Satu riwayat lain dari al-Wāqidī justru bernilai munkar dan munqati‘. Semua hadis ini telah diteliti ulang oleh Muhammad Nāsir al-Dīn al-Albānī, dan tidak ada satu pun yang dapat dinyatakan sahih.
Riwayat yang tidak sahih ini tentunya tidak boleh dijadikan pegangan untuk menafsirkan ayat di atas. Oleh karena itu para mufasir melakukan penafsiran dengan meninggalkan semua riwayat itu. Benar bahwa Nabi Saw pernah membacakan surat al-Najm di depan khalayak Quraysy sehingga semua bersujud, baik muslim maupun musyrik. Hal ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Sahīh-nya pada kitab tafsir, bab fasjudū lillāh wa‘budū, tanpa menyinggung adanya ayat gharānīq, (Lihat: Ibn Hajar, Fath al-Bārī, Mesir: Maktabah al-Tawfiqiyyah, t.th., jld. VIII, hlm. 655). Jadi tidak benar Nabi saw. membaca ayat gharānīq yang dibisikkan setan, lalu bagaimana ayat 52 surat al-Hajj ditafsirkan?
dī Qan‘an al-Sāwī yang men-syarh Tafsīr Jalālayn menjelaskan tafsirnya, bahwa setan mencampakkan keraguan (syubhat) dalam apa yang dibaca Nabi saw., artinya ia membisikkan kepada umat bahwa bacaan itu adalah sihir. Maka Allah menghapuskan keraguan itu, dari hati orang-orang yang dikehendakinya mendapat petunjuk, (Qādī Qan‘an al-Sāwī, t.th.: III, 106).
Sa‘ad Yūsuf Mahmūd Abū ‘Azīz dalam kitabnya al-Isrā’īliyyah wa al-Mawdū‘at fī Kutub al-Tafāsir Qadīman wa Hadīthan (hlm. 270), mengutip pendapat al-Syanqitī yang berbeda dari kebanyakan mufasir. Umumnya para mufasir mengkaji secara semantik dengan mentakwil kata ‘tamanni’ dari arti ‘ingin/cita-cita’ menjadi arti ‘membaca’. Padahal secara sintaksis dengan berpegang kepada makna hakiki (lughawī) saja ayat ini sudah bisa dipahami sebagaimana penafsiran al-Syanqitī.

Dari sudut pandang ini, pendapat al-Syanqitī lebih kuat karena tidak mentakwil. Dengan demikian, tafsirnya menjadi; bahwa ketika para nabi bercita-cita agar semua umatnya mengikuti petunjuk, lalu setan mencampakkan keraguan (syubhat) untuk menghalangi cita-cita para nabi. Yaitu kalimat-kalimat yang katanya pemahaman dari ayat, tapi sebenarnya bukan, kalimat-kalimat seperti inilah yang dihapuskan oleh Allah. Wa Allāh a‘lam bi al-sawab

Komentar

  1. kasihan wkwkwkwkwk. jelas jelas dlm tafsir nabi palsu itu ngakuin setran berhasil kirim ayatnya lewat mulut nabi palsu mohamad kok, eh lu malah sibuk ngeles wkwkwkwkwkwkwkwwk, ente lebih jago dari ahli taffsir itu ya ? wkwkwkwkwkwkwwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nuzulul Quran Penafsiran Ayat 185 Surat al-Baqarah

Demi Jiwa (Penafsiran Ayat 7-10 Surat al-Syams)

QURBAN: ISHAK, ATAU ISMAIL? (Penafsiran Ayat 100-103 Surat al-Shaffat)

Kumpulan Kaidah Fiqhiyah

ABORSI (Penafsiran Ayat 31 Surat al-Isra’)

Zakat dan Riba; Tafsir ayat 39 Surah al-Rum

Aturan Debat PAI