Postingan

Fitrah Manusia menurut Erich Fromm

Sampai abad modern ilmuwan masih mengira kekerasan sebagai sifat bawaan manusia. Namun penelitian yang lebih belakangan membuktikan kesimpulan sebaliknya. Erich Fromm dalam buku The Anatomy of Human Destructiveness (terbit 1973) membuktikan bahwa agresi destruktif bukan sifat bawaan lahir manusia. Kesimpulan ini bukan sekedar spekulasi subjektif, tapi dibuktikannya secara ilmiah dengan sumbangan temuan berbagai bidang ilmu. Memerhatikan pemikiran para ahli psikoanalisa sebelumnya, Sigmund Freud (1856-1939 M), dalam bukunya The Ego and The Id (1923 M) berhujah tentang adanya insting kehidupan ( eros ), dan insting kematian ( death instinct ) dalam diri manusia. Insting kematian bisa tertuju kepada organisme itu sendiri, dengan demikian merupakan dorongan perusakan diri, atau tertuju ke luar yang berarti kecenderungan merusak pihak lain. Meski pun Freud berpendirian bahwa kekuatan insting kematian dapat dikurangi, namun asumsi dasarnya masih tetap, bahwa sejak lahir manusia telah me...

Ontologi Maqāsid al-Syarī‘ah

Menurut Mu h ammad Hisyām al-Burhānī, ketika maslahat sebagai maqā s id dibicarakan u s ūliyyūn , objeknya bukan lagi maqā s id dalam arti al-kulliyyāt al-khamsah , tapi sarananya ( wasā’il ). [1] Menurut Mu st afā Syalabī, ini muara dari perdebatan u s ūliyyūn dalam ilmu kalam. Mereka mempertanyakan tentang kausa finalis ( final cause / al-‘illat al-ghā’iyyah ) yang disebut maqā s id al-Syāri‘ . Lalu mereka sampai pada pengakuan bahwa pensyariatan bertujuan untuk maslahat. [2] Masalahnya, apakah hakikat maslahat di sini dilihat sebagai maqā s id li al-Syāri‘ , atau maqā s id li al-nās ? Masalah ini kembali pada persoalan ta‘līl perbuatan Allah di mana maqā s id dipandang semakna dengan al-ghara d . Menurut al-Tahānuwī, kata al-ghara d berarti motivasi [3] ( al-bā‘ith ) bagi pelaku, atau faktor yang menggerakkannya ( al-mu h arrik ) untuk berbuat. Dari itu al-‘illat al-ghā’iyyah disebut juga al-‘illat al-fā‘iliyyah . [4] بفتح الغين والراء المهملة ما لأجله فعل ا...

ABORSI (Penafsiran Ayat 31 Surat al-Isra’)

Allah berfirman: وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرً (الإسراء: 31) Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar . (Q.S. al-Isra’: [17] 31) Menurut Ibn Abbas ayat ini turun sehubungan dengan tindakan jahiliyah yang membunuh anak perempuan mereka, bahkan menguburnya hidup-hidup. Ibn ‘Asyur melihat kata awlad (anak-anak) di sini bermakna banat (anak perempuan), sebab ayat ini sangat terkait dengan suasana di masa jahiliyah, di mana anak perempuan dibunuh karena takut terhina dan fakir. Pandangan yang sama juga dikemukakan Ibn Katsir, bahkan ia membandingkan ayat ini dengan ayat tentang warisan. Bahwa Alquran menetapkan hak mewarisi bagi anak perempuan sebagai pembatalan atas adat jahiliyah yang tidak memberikan harta warisan kepada anak perempuan. Demikia...